Daftar Isi
    Agama dan Peruabahan Sosial : Pengertian, Sejarah, Teori Perubahan Sosial

    Agama Dan Perubahan Sosial


    Istilah adaptabilitas berkaitan dengan perubahan-perubahan sosial. Suatu perubahan dapat diketahui jika ada sebuah penelitian dari susunan kehidupan masyarakat pada suatu waktu dengan kehidupan masyarakat pada masa lampau. Perubahan-perubahan di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah sosial, lapisan-lapisan dalam masyarakat dan sebagainya. Banyak penyebab perubahan, antara lain yaitu: ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, dan penggunaannya oleh masyarakat, komunikasi, transportasi, urbanisasi, yang semua ini mempengaruhi dan mempunyai akibat terhadap masyarakat yaitu perubahan masyarakat melalui kejutan dan karenanya terjadilah perubahan sosial. Moore (1967) mendefenisikan perubahan sosial sebagai perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi pada struktur-struktur sosial, yakni pada pola-pola perilaku dan inetraksi sosial.



    Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan. Dapat dikatakan kalau konsep dasar perubahan sosial mencakup tiga gagasan: (1) perbedaan, (2) pada waktu berbeda, dan (3) diantara keadaan sistem sosial yang sama. Sebagai suatu pedoman, maka dapat dirumuskan bahwa perubahan- perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosial, termasuk didalamnya nilai- nilai, sikap-sikap dan pola-pola perikelakuan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Agama dan perubahan memang merupakan dua hal yang berbeda, tapi saling mempengaruhi. Agama seringkali dianggap sebagai pandangan hidup yang di nomor duakan  karena  ajarannya banyak membahas kehidupan setelah mati. Namun, tak dapat dipungkiri, kesadaran keagamaan tidak hanya berkenaan dengan ritual ketuhanan dan menggapai keselmatan  akhirat. Namun, agama juga menjadi rujukan dalam menyelesaikan problem hidup didunia. 



    Sejarah telah mencatat bahwa agama juga menempatkan dirinya sebagai penggerak perubahan masyarakat seperti yang telah ditulis oleh Weber mengenai agama Protestan dan Bellah tentang agama Tokugawa. Fenomena perubahan sosial dewasa ini menggambarkan dan menjelaskan kepada kita bahwa agama menjadi salah satu faktor perubahan sosial itu sendiri. Agama sebagai hasil kebudayaan, yang ada, hidup dan berkembang dalam masyarakat memiliki peranan penting dalam perubahan sosial tersebut. Dalam hal ini, menggagas pemikiran tentang hubungan antara agama dan perubahan sosial bertitik-tolak  dari pengandaian bahwa perubahan sosial merupakan suatu fakta yang sedang berlangsung, yang diakibatkan oleh keuatan-kekuatan yang sebagian besar berada di luar kontrol kita, bahwa tidak ada kemungkinan sedikitpun untuk menghentikannya. 



    Di sini, disposisi agama, pada satu sisi dapat menjadi penentang, sebagaimana tercermin dalam ucapan Marx bahwaagama adalah candu bagi rakyat. Menurutnya, karena ajaran agamalah maka rakyat menerima saja nasib buruk mereka dan tidak tergerak untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Agama pada sisi lain dapat menjadi pendorong adanya perubahan sosial.Agama,  sampai  batas  tertentu,  dapat  dikatakan  hidup sehingga  masyarakat  secara actual mengenali acuan-acuan transenden dari sistem signifikasi atau lambang keagamaan sebagai sesuatu yang benar dengan sendirinya.



    Dengan adanya perubahan sosial, agama diharapkan tidak melakukan tindakan  ekstrim dengan memasang tembok tebal penolakan datangnya perubahan sosial dengan selalu mengacu pada keadaan-keadaan tradisional tempo dulu. Agama diharapkan mampu berkontekstualisasikan dirinya, mempersiapkan umatnya untuk mempengaruhi  arah perubahan sosial dengan memperkuat struktur-struktur yang ada, agar bisa menyaring pengaruh negatif dari perubahan-perubahan sosial itu.Agama harus melakukan fungsinya menenangkan umatnya menghadapi situasi ini dengan jalan mempertajam kesadaran umatnya, bukan justru sebaliknya menarik garis ekstrim atau melegalisir dan mendorong umatnya melakukan tindakan-tindakan anarkis sebagai wujud kefrustasian atas keadaan.



    Agama memiliki nilai-nilai bagi kehidupan manusia sebagai per orangmaupun dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat. Selain itu, agama juga memberi dampak bagi kehidupan sehari-hari. Karena agama mempunyai suatu sistem nilai yang memuat norma- norma tertentu, maka dari itu para pengikut agama dalam menentukan sikapnya dalam hal menerima atau menolak perubahan dengan berpatokan kepada nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam agama tersebut. Penjelasan di atas merupakan salah satu fungsi agama sebagai nilai etik, karena dalam melakukan suatu tindakan, seseorang akan terikat pada ketentuan antara mana yang boleh dilakukan dana mana yang dilarang sesuai dengan ajaran agamanya. Agama sebagai kausal variabel secara sederhana mengandung pengertian agama sebagai sebab musabab terjadinya suatu perubahan dalam masyarakat. Sebab, apabila kehadiran agama di tengah-tengah hingar bingar akselerasi kehidupan manusia tidak dapat menawarkan semangat perubahan, maka eksistensi agama akan menjadi pudar. 



    Dengan kata lain, kalau sudah demikian, tidak mustahil agama akan ditinggalkan oleh umatnya dan boleh jadi belakangan menjadi ―gulung tikar karena dianggap sudah tidak up  to date. Oleh karena itu, para pemuka agama atau bahkan pengikut agama secara individual melakukan pemikiran ulang atau yang lebih kita kenal dengan istilah ijtihad terhadap suatu hal yang telah tercantum dalam dalil-dalil agama. Dari situ, agama akan menentukan, menerima atau menolak perubahan.4 Hal itu juga dilakukan agar agama tetap eksis di tengah perubahan dan memuncukan sifat-sifatnya yang adaptif. Tanpa itu, dapat dipastikan semakin lama sesuai dengan tuntutan zaman, agama akan ditinggalkan oleh pemeluknya dan pada akhirnya ―gulung tikar.



    Meskipun acap kali tidak mudah untuk mensosialisasikan agama sebagai bagian dari spirit proses perubahan sosial. Memang tidak selamanya perubahan yang diakibatkan sepak terjang agama dapat berdampak kemajuan peradaban bagi manusia. Tidak sedikit perubahan yang mengarah pada kemunduran (regress) sebuah peradaban bangsa tertentu seperti terjadikonflik-konflik yang mengatasnamakan agama. Sedangkan perubahan yang mengarah pada kemajuan (progress) peradaban manusia, posisi agama pun memberikan kontribusi yang sangat besar.5 Dengan agama, manusia dapat menebarkan perdamaian dan cinta kasih di antara sesamaoptimis dalam menatap masa depan, menciptakan alat-alat teknologi untuk peningkatan kesejahteraan, menegakkan keadilan, sekaligus pemihakan terhadap golongan lemah yang menyebabkan stabilitas sosial. Namun di sisi lain, agama tidak hanya menjamin stabilitas sosial, tetapi kadang-kadang juga mendukung konservatisme yang ekstrim.



    Orang-orang yang tertarik pada ajaran Calvin seringkali berasal dari orang-orang kota dan kelompok pedagang yang mulai berhasil di dunia, dan yang berpengaruh dalam masalah- masalah politik keagamaan.35 Kepercayaan Calvinis tidak hanya dengan amat tegas menekankan perlunya kerja keras dan melarang semua bentuk pemborosan dan penggunaan uang dengan percuma, tetapi ia juga menolak validitas sistem gerejawi untuk mendaatkan kehidupan yang baik di bumi ini dan di surga kelak melalui pemberian sakramen. Pelaksanaan sistem sakramen yang seharusnya dibenarkan sejak dahulu hingga sekarang merupakan inti ajaran Katolik. 



    Namun, doktrin Calvinis mengatakan bahwa hanya Tuhanlah yang mengetahui siapa yang selamat dan siap yang terkutuk selama-lamanya. Baik usaha individual maupun rahmat sakramen tidak dapat mengubah ketentuan-ketentuanNya yang telah ditetapkan. Konsep Calvinis tentang Tuhan menekankan pada aspek-aspek transendenNya, memandangNya sebagai Yang Maha Tahu, Penguasa alam semesta, dan Pemberi keadilan dan malapetaka. Sementara orang Kristen di abad pertengahan, dalam pandangannya tentang dunia yang akan dating, terutama memperhatikan pencapaian surga. Dan mereka juga menyandarkan diri pada pertolongan Kristus, Perawan Maria, dan orang-orang suci serta keseluruhan system sakramen gereja. Pengikut-pengikut Calvin dihantui oleh ketakutan terhadap neraka yang  siap menyergap dan ketakutan untuk menghadapi nasibnya dengan hanya satu Tuhan yang transenden dan menakutkan itu.




    Artikel Terkait:

    Jadilah komentator pertama!
    Urut dari yang terbaru terlama terbaik

    Terbaru

    Terlama

    Terbaik